Pemerintah

Pemerintah Siapkan Work From Anywhere untuk Dorong Konsumsi dan Ekonomi Lebaran 2026

Pemerintah Siapkan Work From Anywhere untuk Dorong Konsumsi dan Ekonomi Lebaran 2026
Pemerintah Siapkan Work From Anywhere untuk Dorong Konsumsi dan Ekonomi Lebaran 2026

JAKARTA - Pemerintah berencana kembali menerapkan konsep kerja dari mana saja atau work from anywhere (WFA) untuk memacu pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2026. Kebijakan ini diharapkan menjadi stimulus tambahan yang mempermudah mobilitas masyarakat sekaligus meningkatkan konsumsi jelang libur panjang Idulfitri.

Langkah WFA tidak hanya menyasar sektor swasta, tetapi juga aparatur sipil negara (ASN). Regulasi terkait tengah disiapkan agar pelaksanaan kebijakan ini bisa berjalan lancar di seluruh lapisan pekerja kantoran.

Regulasi dan Implementasi WFA

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut regulasi WFA untuk ASN akan dikeluarkan oleh Menpan RB. Sementara untuk pekerja swasta, aturan akan diterbitkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan.

Meski waktu pelaksanaannya belum diumumkan secara pasti, Airlangga memastikan pengumuman akan dilakukan menjelang bulan Ramadan. Stimulus ini ditujukan agar konsumsi masyarakat meningkat tepat pada momentum awal tahun.

Stimulus Ekonomi Pendukung WFA

Selain WFA, pemerintah menyiapkan berbagai stimulus lain untuk meningkatkan aktivitas ekonomi. Diskon tiket transportasi dan bantuan sosial (bansos) menjadi bagian dari upaya memacu konsumsi masyarakat.

Airlangga menjelaskan, pengalaman mobilitas tinggi pada Desember sebelumnya mampu mendorong konsumsi secara signifikan. Pemerintah ingin mengambil pelajaran dari tren tersebut untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi lebih awal di 2026.

Peran Pajak dan Insentif Fiskal

Pemerintah juga memberikan keringanan pajak sebagai bagian dari stimulus. Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) berlaku untuk sektor properti dan transportasi, termasuk pembebasan Pajak Penghasilan (PPh) bagi gaji di bawah Rp10 juta.

Langkah ini diharapkan memberi keleluasaan masyarakat untuk meningkatkan belanja tanpa terbebani pajak tambahan. Menko Airlangga menekankan bahwa stimulus tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya untuk memacu ekonomi lebih agresif.

Konsumsi Rumah Tangga sebagai Motor Pertumbuhan

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga masih menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi 2025. Kontribusi konsumsi terhadap PDB mencapai 53,88% dengan pertumbuhan 4,98% year on year.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut peningkatan aktivitas masyarakat, khususnya di sektor restoran dan hotel, menjadi faktor utama mendorong pertumbuhan. Aktivitas wisata dan mobilitas masyarakat selama libur akhir tahun tercermin dalam kenaikan konsumsi transportasi dan komunikasi.

Proyeksi Dampak WFA terhadap Ekonomi 2026

Dengan kombinasi WFA, insentif pajak, dan bansos, pemerintah menargetkan peningkatan konsumsi secara signifikan pada kuartal I/2026. Penerapan WFA diprediksi mendorong fleksibilitas kerja sekaligus meningkatkan aktivitas belanja masyarakat di berbagai sektor.

Momentum libur panjang Idulfitri dianggap strategis untuk menstimulasi perekonomian karena mobilitas masyarakat biasanya meningkat. Peningkatan konsumsi ini diharapkan menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi awal tahun dan memperkuat basis pertumbuhan tahunan.

WFA sebagai Strategi Stimulus Ekonomi Terpadu

Penerapan WFA tidak hanya mempermudah pegawai dan ASN, tetapi juga menjadi alat pemerintah untuk menggenjot konsumsi masyarakat. Dukungan tambahan berupa diskon transportasi, bansos, dan insentif pajak diharapkan memperkuat daya beli dan mendorong aktivitas ekonomi lebih luas.

Dengan strategi ini, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada awal 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. WFA menjadi salah satu inovasi kebijakan yang menggabungkan fleksibilitas kerja dan pemulihan ekonomi secara bersamaan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index