Tembaga

Lonjakan Harga Tembaga Tembus Rekor Dunia Setelah China Kembali Aktif, Prospek Cerah

Lonjakan Harga Tembaga Tembus Rekor Dunia Setelah China Kembali Aktif, Prospek Cerah
Lonjakan Harga Tembaga Tembus Rekor Dunia Setelah China Kembali Aktif, Prospek Cerah

JAKARTA - Pasar logam dasar global mencatat kenaikan signifikan setelah China kembali membuka aktivitas ekonominya pasca libur Tahun Baru Imlek 2026. Pedagang menyambut optimis prospek penurunan tarif Amerika Serikat yang berpotensi memperlancar ekspor logam intensif.

Dampak Pembukaan Pasar China terhadap Harga Logam

Harga tembaga mencatat lonjakan hingga 2,8% menjadi US$13.228 per ton di London. Aluminium pun ikut naik meski hanya sedikit, mencerminkan sentimen positif dari pembukaan pasar di China.

China menghadapi tarif yang lebih ringan, setelah Mahkamah Agung AS menolak tarif balasan yang diusulkan sebelumnya oleh pemerintahan Donald Trump. Kebijakan ini memberi dorongan bagi ekspor logam yang intensif, terutama dari sektor tembaga dan aluminium.

Menurut analis Allianz SE, termasuk Kepala Investasi Ludovic Subran, Mahkamah Agung AS memang menghapus alat tarif paling efisien, namun tidak menghapus sistem tarif secara keseluruhan. Analis menilai hal ini justru membuat negara-negara Global Selatan dan China menjadi penerima manfaat terbesar dari kebijakan baru tersebut.

Rekor Baru Harga Tembaga dan Sentimen Pasar

Tembaga mencatat rekor konsolidasi baru dengan harga US$13.228 per ton. Kenaikan harga ini tercermin dalam pasar saham daratan China, di mana Indeks CSI 300 mengalami penguatan signifikan pada Selasa, 25 Februari 2026.

Morgan Stanley memperkirakan, jika kerangka kerja perdagangan baru ini dikonfirmasi, tarif rata-rata AS atas barang dari China akan turun menjadi 24% dari sebelumnya 32%. Penurunan tarif ini menjadi faktor utama yang mendorong optimisme di pasar logam global.

Pengaruh Kebijakan AS terhadap Permintaan dan Pasokan

Jon Li, analis di Guangzhou Finance Holdings Futures Co., menilai bahwa pengumuman dari AS akan meningkatkan permintaan produsen. Produsen logam, terutama tembaga, diprediksi kembali meningkatkan pembelian seiring sinyal positif dari perubahan tarif.

Sejak Januari 2026, harga tembaga telah stabil di level tinggi akibat rekor harga sebelumnya. Namun, pergerakan harga tetap sensitif terhadap perubahan kebijakan AS, isu tambang, dan proyeksi peningkatan konsumsi terkait transisi energi global.

Harga tinggi tembaga sempat menekan permintaan fisik di China. Akibatnya, persediaan yang tercatat di bursa mencapai level tertinggi sejak 2024, menunjukkan kelebihan stok di tengah lonjakan harga.

Pergerakan Pasar Logam Lainnya

Persediaan logam di AS juga menunjukkan kenaikan, termasuk yang tercatat di gudang London Metal Exchange (LME). Aluminium mencatat kenaikan 0,1% sementara logam dasar lainnya mengikuti tren positif, meski variasi pergerakan tergantung jenis logam.

Tembaga ditutup naik 2,3% di LME pada harga US$13.166,50 per ton. Lonjakan ini menegaskan bahwa sentimen pasar global kini sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik dan ekonomi dari AS dan China.

Proyeksi Pasar Logam Jangka Dekat

Dengan pembukaan ekonomi China dan penurunan tarif AS, analis memperkirakan permintaan logam akan kembali meningkat. Konsumsi tembaga dan aluminium khususnya diperkirakan naik seiring rencana investasi infrastruktur dan proyek energi bersih di Asia.

Kondisi ini mendorong produsen untuk menyesuaikan produksi agar persediaan tidak terlalu berlebih. Namun, risiko volatilitas tetap ada karena perubahan kebijakan perdagangan AS dapat muncul kapan saja.

Dampak pada Industri dan Konsumen Global

Harga logam dasar yang tinggi memiliki dampak langsung pada biaya produksi sektor industri. Produsen elektronik, konstruksi, dan otomotif di China serta negara pengimpor utama harus menyesuaikan harga jual untuk menutupi kenaikan biaya bahan baku.

Di sisi lain, kenaikan harga ini memberikan insentif bagi penambang dan eksportir logam untuk meningkatkan volume produksi. Hal ini dipandang penting untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan global dalam jangka menengah.

Pembukaan pasar China pasca Tahun Baru Imlek dan prospek penurunan tarif AS mendorong lonjakan harga logam dasar. Tembaga menjadi sorotan utama dengan rekor baru, sementara aluminium dan logam lain mengikuti tren positif yang menunjukkan optimisme pasar global.

Sentimen positif ini diperkirakan akan bertahan selama kombinasi faktor kebijakan, konsumsi, dan pasokan tetap stabil. Namun, para pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi perubahan tarif AS yang bisa mempengaruhi dinamika harga logam ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index